100 Hari Jadi Suami

SAAAHHH!!!!

Dan akad itu pun sudah terlewat 100 hari lamanya. Kalau jadi pejabat, mungkin sudah banyak jurnalis yang membuat laporan kerja 100 hari pertamanya. Nah, bagaimana dengan menjadi seorang suami a.k.a kepala rumah tangga yang anggotanya baru satu orang?

Tentu ini adalah pengalaman pribadi dan sangat boleh tak sama dengan apa yang dialami oleh orang lain tentunya.

Sebelum ke sana, aku dan istri menikah saat kami berusia 23 tahun. Muda? yes. Apakah ikut dalam kampanye nikah muda? big no. Karena tak semua orang sudah menemukan orang yang tepat di usia muda, bahkan belum tentu juga ketika tua. Poinnya adalah di orang yang tepat. Karena jika telah menemukan orang yang tepat, kapan pun itu, akan selalu menjadi waktu yang tepat pula.

Dan mungkin akan ada tulisan khusus kenapa aku menikah di usia 23 tapi tak mau ikut kampanyekan nikah mudah dan justru menghalang-halangi yang mau nikah muda dengan beberapa alasan yang salah satunya karena ikut trend atau alasan tekanan masyakarat.

Kembali lagi ke 100 hari menjadi suami. Pertama, aku tak punya masalah yang berarti dalam beradaptasi dengan keluarga istri. Yap, setidaknya 3 hari pertama pernikahan kita akan tinggal di rumah mertua dan rasanya sudah tak canggung lagi karena sudah pernah menginap beberapa kali di rumah mertua, juga istri yang beberapa kali sempat menginap di rumah orang tuaku di Sumedang. Sebelum menikah, keluarga kami pun sudah dekat dan mengenal satu sama lain.

Sekitar hari ke-empat, kami mulai memindahkan barang-barang ke rumah kontrakan yang tak jauh dari sekolah tempat istri mengajar. Rumah kontrakan itu sudah kami incar sebelum menikah dan sempat terisi. Tapi beruntung karena rumah tersebut akan ditinggalkan oleh yang mengontrak beberapa hari sebelum kami menikah. Dan tentu saja tanpa pikir panjang, kami deal dengan pemilik rumah kontrakan tersebut.

Dan untuk seminggu pertama, semuanya dihabiskan untuk beres-beres sisa acara pernikahan, buka kado, pindahan, dan sempat liburan ke Jakarta dan Bogor sebelum kembali bekerja.

Dan ketika waktu bekerja kembali datang, mulailah menjalani kehidupan yang hampir sama sebelum menikah: hubungan jarak jauh :’)

Aku kerja di Bandung, sedangkan istri menjadi guru di sebuah SMP negeri di Purwakarta setelah lolos seleksi tes CPNS tahun 2018 lalu. Walau tiap hari Senin aku kerja dari rumah (hasil perjanjian dengan CEO), tapi tetap saja weekend menjadi waktu yang ditunggu-tunggu.

Berarti sudah sekitar tiga kali pula kami berbelanja bulanan layaknya keluarga. Mungkin orang-orang akan melihat dengan aneh terlebih istri punya badan dan wajah yang terlihat lebih muda bahkan dari anak SMA 😀 Jadi, saat belanja bulanan, mungkin orang lebih akan percaya bahwa kami adalah adik kakak yang diminta ibunya berbelanja bulanan karena ibunya sedang sakit gigi.

Dan aku berpendapat juga bahwa di zaman sekarang ini perempuan tak harus bisa masak dan selalu menyajikan masakan. Tapi, kalau kamu punya istri yang jago masak, oh man, your life will be so happy!

Terkadang juga jadi merasa terlalu nyaman. Apa-apa disiapin. Dan yang bikin senang ya karena istri juga melakukannya dengan senang. Jadi ya walau pun kami kemana-mana masih naik motor, mencari hiburan dengan sederhana, tapi ya kami bahagia dengan jalan hidup kami. Dan kuncinya adalah jangan membandingkan hidup kami dengan kehidupan orang lain, karena mungkin terlihat lebih menyenangkan, tapi mungkin juga hanya sebatas ‘terlihat’.

Dan yang membuatku lebih bahagia ya kami sama-sama belajar. Aku tak merasa tertuntut untuk menjadi suami yang bijak dan sesempurna Fahri di film Ayat-Ayat Cinta 2. Kadang istri pun memberikan nasihat dan teguran. Apakah aku merasa direndahkan sebagai suami? supermassive no. Justru aku bahagia menjalani pernikahan ini sebagai partner, bukan suami di atas memimpin dan istri harus patuh dan suaranya menjadi sekunder.

Bahkan, dalam urusan finansial pun kami punya cara pandang yang berbeda. Jadi teringat tweet di Twitter yang sempat ramai tentang laki-laki yang harus selalu pay the bill karena sebagai bukti kalau dia akan bertanggung jawab kelak. HAHAHAHA. Kadang malah istriku yang pay the bill kalau kami makan di luar. Iya, uang dia, gaji dia, bukan uangku yang dikasih ke dia.

Uang suami adalah uang bersama dan uang istri adalah uang istri? Sepertinya itu tidak berlaku bagi kami yang punya prinsip uang kita adalah uang kita 😀 But, seriously tak akan mudah mendapatkan pasangan atau bisa sepakat akan hal yang sensitif ini.

Jadi, untuk kalian yang belum menikah, pesanku bukan cepatlah menikah, tapi menikahlah dengan orang yang tepat.

Oh, iya. Kami juga sedang ikhtiar untuk memiliki adek bayi. Mungkin orang lain bilang ini terlalu cepat, tapi pikirku ini hanya lebih cepat. Mohon doanya agar diberi keturunan di waktu yang tepat dan selamat dengan sehat.

Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s